Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Satu Tempat Ibadah Buat 3 Keyakinan (Agama).Kebersamaan Yang Indah


Berlin
Miniatur The House of One, foto: BBC
Hidup damai berdampingan antar agama yaitu Yahudi, Kristen dan Islam, menjadi komitmen  Berlin – yang dituangkan dalam pembangunan The House of One atau Rumah bagi Yang Maha Esa.  Bangunan ini, diharapkan akan menjadi sejarah umat Yahudi, Kristen, dan Islam bersama-sama membangun sebuah rumah ibadah bersama dalam satu atap. Seperti apa bentuknya?
The House of One, di dalamnya terdapat sinagog, gereja dan sebuah masjid di bawah satu atap. Pemenang tender untuk arsitektur bangunan telah didapat, dan berlokasi di Petriplatz , jantung kota Berlin. Yang mencolok dari bangunan tersebut kelak  adalah banguannya yang tinggi dan menara berbentuk persegi.
Menurut salah satu tokoh agama yang terlibat, Rabbi Tovia Ben Chorin, lokasi The House of One ini sangat strategis.
“Dari sudut pandang saya sebagai orang Yahudi, dulu  kota ini adalah tempat untuk menyiksa komunitas Yahudi. Namun kini telah menjelma menjadi pusat kota yang dibangun oleh tiga agama monoteisme yang telah membentuk budaya Eropa, “ucapnya seperti dilansir BBC, 22 Juni 2014.
Tapi, mungkinkah umat dari ketiga agama ini bergandeng tangan?
berlin 2
Denah The House of One, foto: BBC
“Tentu saja bisa. Orang-orang dari komunitas lain bukanlah masalah bagi kita. Tetapi, kita harus berani untuk memulai langkah ini dari suatu tempat, dan inilah yang kami lakukan hari ini,” lanjutnya.
Sementara itu, ulama Islam Kadir Sanci memandangThe House of One merupakan pertanda bahwa sesungguhnya kaum muslimin cinta damai dan anti terhadap kekerasan. Dan menurutnya, di tempat seperti inilah masing-masing umat bisa saling mengenal budaya satu sama lain.
Menurut arsitek Wilfried Kuehn , tiga rumah ibadah ini memiliki luas yang sama, namun dibangun dalam bentuk yang berbeda (lihat gambar). Dan masing-masing ruang ibadah dibangun berdasarkan kebutuhan dan ke-khasan masing-masing agama.
“Ada organ di dalam gereja, dan ada tempat berwudhu di masjid, “ jelasnya.
“Yang menarik adalah, ketika Anda mencoba flashback ke masa silam, maka akan mendapati bahwa ketiga agama ini telah “berbagi” banyak type arsitektur. Secara umum, ketiganya tidak begitu berbeda. Sebuah masjid, tidak wajib ber-menara, sebagaimana gereja juga tidak memerlukan menara. Hal ini lantaran ketiga agama ini memiliki kedekatan asal-usul.”
Di masa lalu, berbagai agama telah menggunakan bangunan yang sama dalam periode yang berbeda. Masjid-masjid di selatan Spanyol menjadi katedral setelah penaklukan Kristen. Di Turki, gereja-gereja menjadi masjid. Di Inggris, gereja tua Welsh pernah dijadikan masjid. Dan Masjid Brick Lane di East End London menjelma menjadi gereja sejak abad ke-18, namun kemudian menjadi sinagog sampai akhirnya kini kembali menjadi masjid tempat beribadah bagi komunitas Muslim di wilayah itu.
Tetapi, bukankah hal tersebut berbeda dengan membangun 3 rumah ibadah dalam satu atap?
Ide ini bermula dari kaum Kristen. Pastor Gregor Hohberg, pastor paroki Protestan,  yang mengatakan hendak membangun rumah ibadah di tempat yang  menjadi lokasi gereja pertama di Berlin pada abad ke-12 berada.
Pemuka tiga ama meletakkan batu bersama, foto: BBC
Pemuka tiga agama meletakkan batu bersama, foto: BBC
Gereja St Petri, demikian disebut,  rusak parah pada akhir Perang Dunia. Kemudian, enam tahun yang lalu, di lokasi tersebut para arkeolog menemukan sisa-sisa dari sebuah kuburan kuno. Akhirnya diputuskan bahwa di tempat itu harus dibangun tempat yang membangkitkan minat masyarakat untuk beribadah.  Proyek ini pun diperluas, yang pada mulanya merupakan bangunan untuk satu iman (satu keyakinan agama), menjadi bangunan untuk tiga iman ( tiga keyakinan agama).
“Setiap iman akan beribadah dengan caranya masing-masing  di dalam ruangannya sendiri, “ jelas Pastor Gregor Hohberg.
“Di bawah satu atap ada satu sinagog, satu masjid, satu gereja. Kami ingin menggunakan ruangan ini untuk melakukan tradisi dan doa-doa kami sendiri dan bersama-sama kami ingin menggunakan ruang di tengah untuk dialog dan diskusi — dan juga sebagai tempat untuk orang-orang yang tidak memeluk agama apapun.
“Berlin adalah kota bagi orang-orang  yang datang dari seluruh dunia dan kami ingin memberikan contoh yang baik tentang  kebersamaan,” lanjutnya.
Memang indah apabila seperti ini, kebersamaan yang tidakterpengaruh walaupun beda keyakinan, semoga Indonesia maupun dunia mau meniru seperti ini.

Posting Komentar untuk "Satu Tempat Ibadah Buat 3 Keyakinan (Agama).Kebersamaan Yang Indah"